Senin, 20 Desember 2010

LIBURAN menjelang

by Janarius Sandy on Sunday, December 19, 2010 at 3:07pm
Desember! Bulan terakhir yang penuh air. Hahaha,, disana salju disini hujan ya. Fotomu ituuu,, hiks. seperti melihat komik donal. Dan kamu adalah agus angsa dibawah salju :D

Sebentar lagi liburan ema. Bagaimana disana? Apakah ada liburan juga? Apa yang kau kerjakan selama liburan?
Sampai kapan salju akan turun? Salju tampaknya indah. Musim gugur juga pasti indah. Disini aku hanya bisa berimajinasi. Musim gugur, musim semi, salju dan musim panas. Selalu ada yang ditunggu. Berganti musim berganti pola hidup. Ah Eropa, menakjubkan, menggoda untuk direkam dan diwariskan ke anak-anak sebagai cerita pengantar tidur.

Lalu, kalau Eropa begitu indah, setelah kamu menyerap keindahannya, tolong katakan padaku, menurutmu bagaimana negeri kita Indonesia ini?

Ema, 19 desember mungkin menjadi hari tersibuk terakhir tahun ini. Setelah itu aku ingin liburan! Ada beberapa tujuan, ada beberapa rencana yang sedang aku susun. Intinya sama, LIBURAN! Libur yang benar-benar libur. Bebas. Bahagia. Yang ada hanya aku, dia dan udara. :)

Mudah-mudahan kamu juga bisa menikmati liburan yang menyenangkan. Sendiri, ramai-ramai, atau berdua dengan si mata coklat, ngobrol asik di sebuah bangku taman, hmmm, tampaknya menyenangkan bukan? Ema, apa di taman-taman disana ada jajanan? Yang kalau disini itu ada es puter, somay, kacang rebus, atau kerang hijau. Ema.ema.ema.ema. banyak sekali pertanyaanku. Silahkan ceritakan apa saja tentang Eropa, aku pasti mendengarkan :)

Ohya, adakah disana daun maple? Seperti apa pohonnya? Apa warna asli daun itu ya? Beberapa hari yang lalu aku melihat ada orang memakai baju, ada gambar daun maple nya.

Seperti katamu, tentang perjalanan kita dan teman-teman kita. Ya kita semua sedang dalam track masing-masing. Sungguhpun berpisah jauh, namun ada masanya track itu bersinggungan kembali. Seperti kereta yang berhenti disebuah stasiun. Walau stasiun itu letaknya di tengah padang gersang (seperti ala-ala film amerika) kita bisa sama-sama mengambil jeda. Rehat sejenak. Meluruskan tungkai yang lelah. Membuka kotak bekal. Minum kopi dan pisang goreng. Sambil bercerita tentang track yang sudah kita lalui, tentang lelah dan sukacita, tentang pemandangan indah disepanjang jalurnya, ataupun kegelapan yang menyelimuti waktu malam dan kita mungkin berjalan sendiri. Ah, aku menantikan saat-saat itu dengan teman-teman kita.

Aku kadang berhayal hidup seperti papan keyboard ini. Tekan CTRl+Save, lalu berbuat sesuka hati, hancurkan, coret, acak2, atau apapun. Kemudian tekan X, Close. Ketika bangun tidur, kita akan membuka lembaran terakhir saat menekan CTRL+Save. Bolehlah kita hidup menurut system, hidup tanpa mengikuti kata hati, namun ada kalanya kita mengikuti kata hati dan menikmati apapun yang bisa kita nikmati. Tanpa ada gangguan apapun. Aku berkhayal tentang itu sekarang ;)

19 desember 2010. 20.10 Wib

Hai! Hari ini sudah hampir berakhir. Acara besar sudah lewat. Menyisakan sedikit lelah. Entah kenapa, semua berlalu dengan jauh lebih tenang. Hasilnya ? SUKSES! Katakana saja begitu. Tak perlu lah ku detil kan disini. Yang penting hari ini sudah selesai, tugas sudah purna. Tinggal tahapan selanjutnya menjelang. Dan aku ingin istirahat dulu. Menjauh dari pekerjaan ini, dari kota ini, dan semua rutinitas. Aku sedang jenuh. Sedikit muak dan sakit hati.

Dan sekarang waktunya berkata keras-keras : LIBUUUUUUURRR!!!!!

Perjalanan menantiku Ema. PERJALANAN. Menjauh dari kota ini, menikmati dunia luar, menikmati udara baru, melihat pemandangan baru, suasana baru, tempat baru, makanan-makanan aneh. Saatnya menikmati pengalaman pertama lagi. Saatnya menulis cerita hidup yang segar. Ini akan memberi banyak kenangan pertama. Tunggu saaja ceritaku berikutnya, aka nada kalimat “ini pengalaman pertama ……”

Nah akan ku isi tanda ….. itu dengan banyak hal. Banyak hal! Aku tidak ingin tahun ini berakhir begitu saja.
Tahun ini,,, hmm,, sudah hampir berakhir ya. Rasanya ada memori yang mengelupas saat menyebut kata itu. Jadi terbayang ingatan setahun terakhir. Apa warna ingatanmu tahun ini? Warna ingatanku sepertinya tidak terlalu semarak. Yang terbayang malah jalan yang sudah kulewati. Jalan yang naik turun. Naik turun dengan tajam. :D

Dan disela-sela perjalanan itu, aku bertemu dengannya… ;)

Boleh aku cerita lagi tentang dia disini? Akhirnya ema, aku menemukannya, seseorang yang mau menemaniku melangkah ribuan mil dalam hidup ini. Seseorang yang merubah ceritaku. Kalau dulu langkahku sendirian, sekarang cerita akan selalu tertulis “langkah kami”. Aku menjadi kami. Dan selalu, nanti, dalam setiap ceritaku, akan selalu ada dia. :)

Liburan kali ini pun tentunya bersama dengannya. Rencana dan destinasinya tidak akan kuceritakan disini. Biarlah itu menjadi bahan diskusi kami, sampai nanti harinya tiba. Kamu pasti dapat ceritanya ;p

Oke ema. Sepertinya surat ini berakhir sampai disini. Semoga surat ini bukan surat terakhir dariku tahun ini. Karena aku masi ingin menulis lagi. Aku masih terus berimajinasi tentang eropa. Sudah ya ma, maaf tidak ada kata-kata manis untukmu. Aku takut si mata coklat belajar bahasa Indonesia dan dia cemburu ;p

Next story : Dua kota impian :)

Jakarta, 19 Desember 2010. 20:25


Jana

Sabtu, 04 Desember 2010

Kepada Jana (part 6)

 Saturday, December 4, 2010 at 11:39pm

Dear Lelaki dari teluk semangka..

Surprise...!!
Surat ku datang lagi, iyak, tugas sudah terkirim, acara budaya sudah dibungkus, saatnya membalas surat. Ah maaf ya teman, balasan kemarin rasanya ringan dan garing sekali :D hehhee kehilangan setengah halaman yg sudah ditulis itu emang merusak semua mood :D

Aku lagi suka menulis sambil mendengarkan lagu! Masih inget bukan kebiasaan kita, kala berbincang dibawah pohon ntah apa namanya di depan gedung C, dan tiba-tiba teman mu yg juga teman ku dan sekarang sedang hamil muda si Ula akan nyeletuk dan menanyakan, "ini bagusnya soundtracknya apa ya jan, em?" hahhaa ingat? Maka kali ini biarlah surat ku pada mu juga diiringi lagu seperti percakapan dimasa lalu. Ost nya apa ya jan? hm... Aku lagi suka lagu ini: Beautiful day dari India Arie (ga bisa posting video jadi ya semoga kamu memutar lagunya juga pada saat membacanya ya)

videoYuuk nyanyi sambil bercerita :)

Early in the morning It’s the dawn of a new day
New hopes new dreams new ways
I open up my heart and I’m gon’ do my part and
Make this a positively beautiful day

Life is a journey, Not a destination,
There are no mistakes, Just chances we’ve taken
Hidup memang perjalanan bukan teman? Langkah melebar, dulu kita adalah kepingan puzzle yang saling mendekat dan saling menemukan ujung demi ujung kita, meng "klik" kan tiap sisi dan akhirnya membentuk sesuatu, ntah gambar, ntah peta, ntah bangunan. Mari kiita anggap saja diri kita puzzle peta, setelah bertahun kita berjuang menyatukan gambar dan peta akhirnya terbaca jelas, kita pun harus memencar arah mengikuti tanda yang dibuat untuk kita. Maka itu lah kita sekarang, berada diperjalanan sesuai pertanda itu, mencoba menarik kepingan-kepingan lain lagi dari hidup kita dan membentuk peta baru lagi.

Hidup mungkin punya tujuan, tapi hidup bukan tujuan itu sendiri. Jadi jangan cemaskan teman-teman kita yang mengembara sampai jauh dan akhirnya tak terdengar kabar beritanya. Asal hati selalu dijaga untuk hangat menyambut kepulangan mereka dengan cerita-cerita barunya, tak ada yang perlu ditakutkan teman. Percayalah ada ikatan yang tak kasat mata yg bisa membelenggu, ikatan yang simpulnya ada pada mu, ada pada ku. Selama kita mengikat itu kuat-kuat, selama kamu masih menyediakan ruang untuk "teman-teman" yang bertualang ini. Selama itu juga mereka akan menjadi teman, jangan khawatir.

Meski tetap, sediakan waktu untuk menengok mereka sobat, setidaknya lewat kata, jangan hanya terlena oleh social media, klo kata dosen saya, social media ini hanya memberikan keintiman yang delusional :D Itu juga alasan kenapa aku masih suka mengirim postcard :) sayang pos indonesia tampaknya tak terlalu menghargai postcard. Sudah mahal ngirimnya eh malah ilang dijalan :(


Wake up in the morning And get out of bed
Start making a mental list in my head
Of all of the things that I am grateful for
Langit eropa kala salju turun? warnanya putih jana! putih yang memerah!! Meski itu diwaktu malam sekalipun.
Mari ku beritahu kau sesuatu tentang salju yang baru saja ku sadari beberapa waktu yang lalu.
Jika kau ingin berjalan tanpa terjatuh diatas tumpukan salju, pastikan kau mencari salju yang belum tersentuh langkah siapa pun teman. Salju yang masih renyah, salju yang akan mengeluarkan bunyi "kres" ketika kau menginjaknya. Satu langkah aku terpeleset, begitu kulihat aku menapak di jejak orang lain, jejak yang sudah mengeras bagai es dan mulai mencair melicin permukaannya. Jera terpeleset kedua kalinya, aku pun mencari jalan tanpa jejak, meski pasti dia ada di daerah yang tak banyak dilalui orang, meski tentu pada akhirnya salju disana lebih dingin dari yang sudah tertapak jejak.


Maka mari bicara tentang jejak kita dalam hidup teman.
Kita sudah bukan lagi anak muda dengan darah setengah pink dan nadi sekencang kuda liar, tentunya! Kita tak bisa sembarangan berlari, melompat atau malah berputar arah semaunya lagi. Kita tentu akan terbawa dan harus mengikuti arus bertumbuh menjadi dewasa seperti yang lainnya. Tapi mari belajar dari jejak salju teman. Mengikuti tiap langkah yang sudah teripijak tak akan membawa mu kemana mana selain mengikuti jejak, dan jika kau tak berhati-hati kau akan jatuh dan tergelincir. Mari kita melongok sebentar, seringnya jatuh, terpeleset, atau malah keseleo ini benarkah karena kita tak hati-hati? Atau karena kita ingin cepat sampai tujuan dan mengekor saja pada jejak jejak yang ada karena seolah arahnya sama?

Padahal dulu sekali, ya dari dulu sekali, kita sudah tau hidup adalah perjalanan masing-masing :)

Life is a challenge not a competition
You can still smell the roses and be on a mission
Just take a moment to get in touch with your heart
Tentu, aku tau, kamu tau, kita tau, sulit sekali menjadi seimbang, tapi jika kemudian kau beranikan diri untuk berjalan dijalan yang belum dilalui orang lain. Ingatkan diri mu sobat, tikamkan jejak sekuat-kuatnya, agar yang dibelakang tau itu milik mu!

Berjalan saja, entah lurus, berbelok, melingkar, berputar, sesuai panggilan jiwa mu, tapi ingat sendiri tak berarti kau memiliki semuanya. Kau tetap bisa sampai ke tujuan tanpa harus menghabiskan semua ruas jalan :) sisakan celah untuk mereka! Jangan tamak teman.. atau kau hanya akan berputar-putar ditempat dan tujuan menjadi kuantitas bukan kualitas. 

Jangan hanya menunduk, atau menatap kedepan, lihat ke samping mungkin kau menemukan bunga mungil berwana kuning sedang kedinginan tertutup salju :) Kalau dalam kisah ku, aku menoleh dan menemukan sepasang mata cokelat :) #eaaaa


Sometimes you feel like you’ve got something to prove
Remind yourself that there’s only one you
Just take a moment to give thanks for who you are

Aku ingin bertanya sobat,
Kenapa Jana? Kenapa tak membaca lagi? Kenapa? Kenapa lelaki yang bercita-cita masa tuanya akan dihabiskan dengan menjadi pemilik dan penjaga toko buku terbesar di Lampung  berhenti membaca? Kenapa Jana? Kenapa berhenti menulis? Lelaki yang tajam pikirannya selalu tertumpah di ujung pena kenapa bisa berhenti menulis?

Kata tak kering teman, begitu juga rasa.. Cuma terlupa. Maka disitu aku ada, ya aku, aku akan terus menulis untuk mu, dengan berbagai macam gaya tulisan yang berbeda. Tulisan yang akan mengingatkan mu akan buku-buku yang selalu berpindah tangan diantara kita. Aku akan mengingatkan mu akan penulis yang mencampurkan adukkan Filsafat dan cinta seperti meracik kopi, mencoba mereka ulang lirik liris para perajut kata dari belahan dunia romantis melankolis yang dulu kita puja-puja. Seperti sekarang entah siapa yang sedang aku coba tiru, bisakah kau tebak? Ah kelak mungkin aku pun akan mencoba merancang ranjau kata seperti si penulis tajam bersenjatakan kelamin perempuan yg koleksinya kau punya lengkap itu.. hehheee.

Tapi tentu aku hanya ingin menjadi pengingat saja, aku bukan mereka, tak mungkin bisa menulis sehebat itu teman. Tapi setidaknya aku cukup berhasil bukan? Kau mengingat kerinduan lama itu! Kau menulis, bahkan berjanji akan membaca.. ah senangnyaaa.. :) setidaknya kau membaca tulisan ku :P Semoga kau menemukan "rasa ku" semoga aku berhasil menikamkan rasa itu, sehingga kelak jika tulisan ku terbaca tak sengaja oleh mu, langsung saja kau kenali itu "tulisan temen ku ema" :))

Kita masih punya mimpi tentang tulisan dan... *ah kita simpan ya jan, tenang saja pasti bisa diwujudkan!!

Early in the morning It’s the dawn of a new day
New hopes, new dreams, new ways
I open up my eyes and I open up my mind and
I wonder how life will surprise me today
Ah bicara soal kejutan, senangnya diri mu.. Lihatlah hidup menitipkan cinta dalam paket seorang gadis manis, beruntungnya teman. Karena jujur aku nyaris khawatir, Tuhan akan menitipkan cinta untuk mu pada mahluk berjakun :P Untung Dia mendengar doa ku, gadis manis yang datang fiuh leganya :D
Dan seperti kata mu, aku juga akan menunggu, menunggu dengan hati berdebar-debar, kejutan apa yang akan hadir hari ini... :)

Life is a journey, Not a destination,
There are no mistakes, Just chances we’ve taken
Lay down your regrets cause all we have is now

Betapa kita hanya memiliki sekarang!!
Maka seperti kata mu yg juga mengutip entah penulis mana, aku lupa,
yang tertulis akan abadi, yang terucap akan hilang ditelan angin
Dengan ini ku kirimkan juga untuk mu,
sebuah laman yang akan mengabadikan kata-kata kita... Semoga kelak saat wall FB sudah tak mampu lagi mencari tikaman jejak kita, laman ini tetap akan ada disana untuk menggantikannya.

www.kotakposhati.blogspot.com

Salam dari ujung timur Belanda
Enschede, 4 des 2010
Sahabat mu



ema

Jumat, 03 Desember 2010

Kepada Jana (part 5)

Friday, December 3, 2010 at 1:26pm
Dear laki-laki dari teluk semangka,

Maafkan keterlambatan surat ini sobat, sudah sekian lama dia tertunda di draft ku, sempat terhapus padahal sudah setengah halaman dengan ratusan kata :( sungguh berat perjuangan surat kali ini untuk muncul pada mu. Ternyata everything happen for a reason, dan kini aku tau alasannya apa, surat ku menunggu surat mu :)

Terimakasih  kawan,
Terimakasih untuk membagi mimpi-mimpi mu dengan ku.. Terimakasih untuk membagi surat ku dengan kekasih hati mu. Sungguh kehormatan bagi surat ku bisa dibaca oleh kalian.. dan semoga kelak kala kita bertemu lagi, kalian tak sekurus saat kita pertama kali bertemu. Agendakanlah makan yang banyak dijadwal pacaran kalian itu, jangan ngbrolin kerjaan saja..

Ah kamu itu ya teman, selalu saja begitu. Tiap kau dimabuk asmara selalu saja aku yg kena getahnya :) itu lihatlah cinta mu meluber kemana-mana, lap sih jan, kececeran tuh.. :)) ah pecinta, sejak kisah pertama yg kau bagi dengan ku, aku tau dengan cinta mu itu, kau pasti akan menemukan cinta yg mengindahkan mu juga. Bidadari itu beruntung aku jamin itu.. tetaplah begitu ya januna januna, tetaplah jadi laki-laki pecinta seperti yg ku kenal dulu dan kini.

Tetaplah merenda puisi, menyulam kalimat gombal, mencipta ribuan moment-moment kecil tapi mematikan ;p dan tetaplah setia pada laki-laki nista dari masalalu mu :)) hahahaha (hi bidadari, aku cuma bercanda, laki-laki mu ini tidaklah gay kecuali pikirannya:))

Time passing me by, but here I'm, back again to our letter :)
Suhu menggila akhir akhir ini teman, aku menghabiskan banyak waktu tertidur dibalik selimut ku. Susah untuk bergerak, sekali bergerak tubuh rasanya diremuk lantakkan oleh udara. Tapi aku tak tahan, aku mau ceritaa.. aku mau cerita..

Tentu telah kau terima video salju ku bukan..
Pertama kali kulihat salju adalah dimalam hari teman, berawal dari update status teman ku yang baru pulang kuliah. Dan aku hanya bisa menatap salju pertama dari balik jendela kaca.. Dengan cokelat hangat ditangan dan selimut tebal melingkar dikaki, menghayalkan kalian sambil mengusal-usal ujung kasur.. :)

Seperti apa kata mu? maka jawabnya seperti taburan bedak switzal :)) hahhaa belum seberapa, paginya aku berharap akan ada jejaknya diatas rumput, tapi nyatanya hanya ada es-es bertaburan. Suhu beranjak turun tapi masih diatas nol, aku masih bisa bertahan tanpa kantuk dan lapar.. Lalu hari yg dinanti itu datang. Salju datang bagai hujaan, iya hujaan.. dia menyerpih janaaa..

Tidak, dia tidak seperti Kapas, tidak juga seperti hujan..
Dia seperti gulali..
Iya seperti gulali, (ingatkah puisi-puisi ku tentang gulali? atau cerpen ku tentang langit gulali?)
Iya dia seperti itu jana, rapuh.. dan begitu menyentuh mu, dia meleleh..
cantik sekali..

menyentuhnya sama seperti melumat gulali, kau merasakan nyilu diujung rasa mu, tapi kau menyukainya!
Ngilu yang tak membuat mu jera, mungkin menghentikan sebentar ingin mu untuk terus menyentuhnya, tapi kau tak sabar menunggu jemari mu kuat lagi dan menyentuhnya lagi, dan lagi..
Dengan mata, dengan jemari, dengan rasa, dengan jiwa...

Aku melewatkan hujan salju pertama ku diluar.
Melihat sendiri bagaimana asap-asap hangat keluar dari cerobong perapian rumah berbata merah..
Merasakan sendiri temaram senja dalam balutan putih yang sahdu.
Menjadi saksi kaki-kaki yang tergelincir, sepeda-sepeda yang terpeleset dan jatuh,
Meniupkan asap dari ujung tenggorokan ku, melilitkan syal dileher ku,
Memeluk cangkir kopi agar hangatnya tak cepat menguap..

Lalu, lalu apa lagi yang ingin kau tau?

hm.. aku punya banyak cerita tapi sekarang sedikit terlupa, karena ada satu hal yang terjadi hari rabu kemarin teman..

Sebelum aku bercerita, baiklah akan ku beritahu kau sesuatu. Ingat bagaimana anak komunikasi di cap "eksklusif" dulu? Zaman kita masih jadi junior culun. Ah ternyata itu juga berlaku di Eropa teman, sudah seperti karakteristik yang melekat hahaha. Sejak pertama masuk ke kelas ini, aku sendirian, mahluk Indonesia hanya satu. Belum pernah ada anak Indonesia masuk kelas ini. Tak ada senior, karena jurusannya pun baru tahun ini dibuka. Sejak Orientasi week dimana saya mengetahui satu hal bahwa its not that easy to becomes ducth friend, saya sudah pasrah saja. Mungkin international student temennya ya international student juga :D

Sekarang setelah 3 bulan, Finally aku bisa bilang aku punya temen, anak dutch asli, :) teman janaaa..
Bukan sekedar class mate, bukan juga kenalan. Sekarang aku bisa dengan PD bilang dia teman... :)

Duh kesannya aku kok ga punya temen ya? Gak juga, I know many people, beberapa malah sempat travelling bareng ke luar negeri, cuma mereka international bukan lokal, dan sebagian besar adalah Indonesia students. Tapi ini temen, temen yang akan menyapa tapi bukan basa basi, temen yang akan duduk disamping mu tanpa tanya apakah bangku disebelah mu kosong? Temen yang akan teriak ditengah jalan begitu melihat mu dan membarengi langkah mu sambil bercerita.

Mungkin akunya yg terlalu sibuk dengan masalah hati dan tugas dan apalah maka aku tak menyadari aku sendiri agak menarik jarak. Tapi mahluk bermata cokelat ini tau tau menyadarkan saya, bahwa saya dan dia berbincang lho.. berbincang!! Dengan kenyataan bahwa inggris sama sekali bukan bahasa ibu kami :)

Dan kemarin, begitu kelas bubar, aku melangkah sendiri sambil celingak-celinguk nyari temen Indonesia dikelas sebelah, dia menyapa. Menanyakan kenapa selalu menghilang setelah kelas selesai, dan kami berbincang sambil melangkah pulang. Dan perbincangan itu berubah menjadi obrolan, tentang sejarah belanda, tentang indonesia, tentang kolonialisme, tentang sejarah.

Wah.. wah... wah.. Melihat dia bersusah payah menjelaskan sejarah negeri oranye ini pada ku, melihat dia pelan-pelan berusaha mengerti cerita ku tentang VOC dan Indonesia dengan bahasa inggris ku yang semerawut. Itu benar-benar menyenangkan!!

Lalu tentang salju, Aku pernah berkhayal jana, (salahkan komik-komik jepang bersetting salju itu!)
Suatu saat aku akan bisa berjalan dibawah salju, dengan seseorang yang menyenangkan, dan obrolan yang juga menyenangkan.

And then it is the best part, Aku mengalaminya..

Masih dengan orang yang sama, seseorang dengan rambut pirang dan mata cokelat yang hangat. Seseorang yang menyahuti obrolan ku dengan sama antusiasnya dengan ku. Seseorang yang membuat muka kebas karena dibelai-belai angin minus 8 masih bisa tersenyum bahkan memecah tawa. Seseorang yang membuat aku harus mendengak jika ingin melihat wajahnya. Ah.. sayang jalan harus bercabang, dan percakapan harus usai.. kami berpisah sambil melambaikan tangan. :)

(persis adegan dikomik, sepasang manusia berjalan dibawah salju sambil bicara dan tertawa)

Begitu lima langkah berlalu, aku berhenti jana, dan menoleh, sekedar untuk memastikan bahwa aku tak sedang bermimpi. Kau tau kebiasaan ku bukan, aku Tak suka pergi, aku lebih suka mengantar seseorang. Suka menatap punggung lawan bicara ku yang menjauh. Maka aku mencari punggungnya, dan tebak jana, dia kembali ke jalan yang sudah kami lalui. Yup dia parkir mobilnya didepan gedung tempat kami kuliah dan dia berjalan sejauh itu ditengah hujan salju cuma untuk nganter aku. Argh.. hati saya menghangat teman.

Btw dia laki-laki :)

Eit.. apa itu?? Simpen muka ciye ciye mu itu ya jana.
Ini bukan tentang itu oke, ini tentang kesadaran bahwa dia juga menikmati obrolan ini sama seperti yang aku rasakan.
dan itu menyenangkan, sangat :)


Sekian dulu cerita ku,
Akan menyusul catatan perjalanan ku di negeri van orange ini, plus foto-foto cantik, segera di blog dan akan juga ada catatan khusus untuk mu hasil berbicang dengan si mata cokelat ini ttg belanda dan budayanya..
(aku tau kamu pasti lebih menunggu yang ini)


ah aku masih ada yang harus dibereskan tugas ditunggu malam ini..
Besok aku akan menjadi duta budaya dengan memulai debut ku jadi model pakean adat di Indonesia evening. Sebenernya aku ingin menari, cuma tugas melilit tak mungkin bisa latihan, akhirnya aku jadi panitia konsumsi (entah ya jan selalu jodoh sama makanan hehhee), terus kemudian didaulat bikin puisi dan baca puisi yang akhinya aku menyerah, karena tugas masih harus direvisi dan deadline-nya bareng dengan acara budaya besok :(

Terakhir aku di daulat jadi model pakean adat, tebak adat apa?? LAMPUNG!! :D yang ini tampaknya aku sanggup, ga perlu latihan heboh rasanya hehhehe semoga besok saya ga kepeleset di atas catwalk ya jan.

Sampai ketemu dilain surat ya jan.

Salam dari sahabat mu di ujung timur belanda
Enschede, minus 9 C,


Ema

nb: ternyata bidadari tak lahir bulan november ya? hehhee salah tebak aku :P



Salju itu rintik atau seperti kapas?

Monday, November 29, 2010 at 1:21am

Dear Wanita berbau Keju, semoga belum beku,


Membaca suratmu, aku jadi merasakan ada sesuatu yang hilang kembali lagi. Kata-kata yang menjelma gelombang, berpusar dan menjelma merangkai kisah-kisah. Aku jadi teringat, sudah lama sekali aku tidak membaca buku. Rasanya kering. Diam-diam aku berjanji, aku akan membaca buku--buku. Imajinasiku terasa tumpul ema. Terseret arus dunia kerja yang meminta dengan manja untuk terus diperhatikan.

Ema, apakabar dirimu? sudah 3 bulan di Eropa. Kabarnya disana sedang musim salju. Semoga dirimu tidak membeku dalam sarangmu. Bagaimana rupa sarangmu yang baru? Apa yang berubah? bagaimana dengan proses adaptasi metamorfosismu dari orang asia menjadi salah satu penduduk eropa? apa yang berbeda?

Hmm,, eropa dan musim dinginnya...Aku jadi teringat cerita-cerita komik di masa kecil..

Coba keluar kamar, tengadahkan kepalamu ke langit,, Apa warna langit Eropa kala salju turun? Apa ada uap yang keluar setiap kali kamu menghembuskan nafas? Apakah ada cerobong asap di rumah berbata merah? apa makanan untuk berhibernasi di musim dingin? apa orang-orang banyak menyimpan makanan kaleng seperti cerita dalam komik?Aku benar-benar menantikan saat dimana kita bisa saling bercerita. Aku bercerita tentang hidupku, dan kamu bercerita tentang salju pada anak-anakku ;)

Hari ini jakarta hujan besar. Meninggalkan genangan air dimana-mana. Sungai yang ada kewalahan menampung air yang berebut hendak menuju kelaut. Apakah disana juga seperti ini? Ataukah tidak ada genangan atau banjir setiap kali hujan. Sehingga hujan bisa disyukuri sebagai sesuatu yang romantis :)

Ceritaku? Kalau kamu tanya apa ceritaku, setahun terakhir ini ada dua bab utama dalam kisah hidupku. Pertama tentang pekerjaan, dan yang kedua tentang cinta. Haha, cinta. Antara warna pink dan warna hitam. Tapi masih pantas kan kita berbicara tentang cinta? Biarlah generasi sekarang mengisi hidup dengan lagak ragamnya, dan biarlah generasi terdahulu memandang kita dengan decak-decak, namun inilah kita. Inilah masa kita. Ini cerita kita. Kalau ada bagian lain dari dua bab ini, bolehlah nanti menjadi sempilan-sempilan penghangat jeda diantara tarikan nafas dan tegukan teh hangatku dan kopimu.

Baiklah, yang pertama tentang pekerjaan.Sudah setahun berlalu sejak saya meninggalkan Lampung dan menetap di jakarta. Meninggalkan lampung juga berarti meninggalkan banyak hal. Keluarga, teman-teman, lingkungan yang nyaman, kebiasaan lama, dan banyak lagi.

Ada satu hal yang menjadi pikiranku, yaitu tentang teman-teman kita. Sejak pindah ke jakarta, dan kemudian sempat pindah ke kota-kota lain, intensitas komunikasi dengan teman-teman kita semakin longgar. Saya sempat khawatir ema tentang hal ini. Komunikasi lisan semakin jarang, komunikasi melalui media juga berkurang.

Semakin lama kita semakin tenggelam di dunia masing-masing. Semua jadi terasa jauh dan keruh. Tidak ada lagi pertemuan-pertemuan rutin, bahkan obrolan sampai tengah malam. Atau mungkin ngobrol ngalor ngidul sampe mulut pegal. Tidak ada lagi. Aku jadi khawatir apa yang dulu sempat sama-sama kita genggam, jadi lepas satu persatu.

Aku berharap semoga kita tetap bisa menjadi teman baik selamanya. Kita sedang tumbuh di pot masing-masing.Tumbuhan-tumbuhan kecil yang berjuang menjadi besar dan menghasilkan. Semoga nanti saat kita sudah sama-sama besar, kita bisa saing bertemu di puncak, saling menjaga buah yang kita hasilkan.

Tentang apa yang aku kerjakan tentu kamu sudah tahu. Ada momen-momen spesial yang akan selalu ku ingat. Baik itu momen pahit ataupun manis disini. Diatas semuanya, aku bahagia disini ema. Aku bertemu keluarga baru. Aku bersarang disini. Walau nanti tetap akan pindah dan berganti sarang, tapi kalau kau tanya apa aku menikmati duniaku sekarang, jawabku : YA aku menikmatinya.

Hidup memang tidak selalu berjalan mulus. Naik turun dan selalu naik turun. Selayaknya dunia kerja pada umumnya, ada target, ada hasil, ada rencana, dan lain2. Tidak terlalu menarik untuk dijabarkan disini. Tapi inilah jalanku, jalannya juga. Jalan yang kami tempuh untuk bisa sepertimu, menjejak dan merasakan dinginnya udara Eropa ;)

Lalu tentang cinta. Ah, mulai darimana ya. Rasanya kamu yang lebih tahu daripada orang lain tentang ceritaku dan dia. Kamu yang pertama kuberitahu bahwa dia adalah calon istriku. Ingat malam saat aku membawanya bertemu denganmu, dan waktu itu kamu belum tahu kalau dia orangnya. Lalu aku memnintamu untuk berjanji tidak akan bertanya macam2, sebelum kuberitahu bahwa dia calon istriku. Hahaha, aku tahu, kau sempat histeris. Entah kamu tidur jam berapa malam itu. Tapi kamu sudah berjanji tidak akan bertanya atau memberitahu siapapun :p

Aku menemukannya disela-sela perjalanan kehidupan ini. Tidak mudah untuk percaya bahwa Tuhan sudah mengarahkanku pada orang yang tepat. Dia tahu apa yang kita butuhkan. Dan Dia memberi apa yang kita butuhkan walau itu bukan yang kita inginkan.Tapi aku percaya, Dia akan memberi yang terbaik.

Kalau kamu bertanya, apa yang membuatku jatuh cinta kepadanya? Kamu harus menyediakan waktu yang cukup untuk mendengarkan alasanku. Semua alasanku. Kalau perlu, akan kuikat dan kupaksa dirimu mendengarkan aku secara langsung, tanpa media sms atau surat. Akan kuceritakan semuanya, dan kamu harus mendengarkan. Aku menantikan saat kita bertiga bisa bertemu dan mendengarkan cerita perjalananmu :)

Kalau hidup adalah perjalanan, maka dalam perjalanan itu aku tidak akan sendiri lagi. Teman travelling seumur hidupku ema, haha, alangkah senangnya. Hmm,, kamu tau, salah satu rasa yang timbul pertamakali saat aku tahu bahwa dialah orangnya? bahagia ema. Waktu itu aku tahu, bahwa Tuhan sudah memberik orang yang tepat. Aku bahagia memiliki kepastian bahwa kelak, kemanapun aku pergi, apapun yang aku rasakan, ada dia yang akan menemani. Walaupun seluruh dunia membenciku, aku percaya, masih ada satu orang yang akan menemaniku :)

Kalau mengingat masa lalu,, hmm, kamu adalah salah satu orang yang tampaknya paling tahu masalaluku ;) Biarlah semua menjadi pengisi baris-baris buku cerita tebal tentang kehidupan. Semua kisah itu, sms-sms itu (hahaha,, jangan kau simpan lagi sms-sms busuk itu), dan semua yang sudah pantas masuk buku, biarlah, relakanlah. AKu sudah merelakan semuanya. Sekarang aku menatap kedepan, dengan bahagia. Kemanapun aku melangkah, kini aku tidak sendiri lagi ema ;)

Yah,, aku harap kamu juga bisa seperti ini nantinya. Mudah untuk memaafkan, tapi Tidak mudah untuk melupakan. Begitu banyak orang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Kelak pasti akan datang untukmu, pangeran berkuda dengan puisi di tangan kiri dan cinta di tangan kanan, memintamu untuk memilih... Hahaha,, semoga dia pria normal ema. :D (ini pembalasan atas isi paket pertamamu dari Belanda itu!)

Suatu hari nanti, tidak hanya hatimu yang pernah menggantung di udara, atau hanya tapak kakimuyang menjelajah eropa. Tapi hatiku dan hatinya, juga telapak kakiku dan kakinya, milik bidadariku juga akan sampai disana. Suatu hari nanti, aku dan bidadariku akan sepertimu juga, melihat Eropa dari udara :)

Aku tunggu cerita dua minggumu yang penuh pesona itu. :) Puyunghai? ah, janjiku itu. Belum sempat aku tepati...

Salam dari bidadariku, dia menunggu suratmu yang berikutnya. Kelak nanti, kami dan anak-anak kami akan bersama-sama membaca suratmu, cerita perjalananmu, dan si kecil akan berkata "waw, tante Ema hebat!"

Semoga lemak-lemak menyelamatkanmu dari musim dingin yang membekukan


Jakarta, 29 November 2010


Jana

Kepada Jana (part 4)

Monday, November 15, 2010 at 8:53pm
Dear laki-laki dari dari teluk semangka,

Surat mu sampai!! Tak cuma ke dinding FB ku tapi sampai ke hati ku.
Terlepas dari mereka yang merasa kita berlebihan, terlepas dari mereka yg diam-diam membaca surat kita dan mengikuti tiap huruf yang kau dan aku lemparkan dalam cibiran atau kekaguman!! Sungguh! Aku bahagia kamu membalas :)

Saat menulis ini aku baru saja pulang dari mencicil barang-barang untuk pindahan. Iya aku pindah kosan, aku memindahkan sarang ku. Tak ada yg salah dari kamar yg lama ini, pemandangannya luar biasa, lingkungan yg penuh warna! Aku menyukainya! Hanya saja, aku ingin menggeliat dan bangun di ruangan baru... Melupakan tengah malam yang berlalu dalam sesak, atau mimpi kenangan yang berkejaran hehehhe "pindahan" itu melelahkan!!

Ku baca surat mu berulang-ulang, kubaca kubaca lagi.. dan semakin aku bingung ingin membalas apa. Marilah kita membahas tekanan itu, tekanan yg membuat kamu akhirnya menulis, dan aku menghujam mu dengan serbuan kata-kata..Ijinkan aku bercerita yaaa...

Saat aku mengeluh, mempertanyakan keadaan, beberapa teman menyipitkan mata, memandang ku seolah aku tak pantas mengeluhkan apapun. Bahkan beberapa menjawab ketus tak berperasaan, ada juga yg menbabtisku ratu drama.

Ah anehnya.. Semua tentu punya masalah masing2x, tak perlu membandingkan siapa yg lebih kuat bukan? Karena Tuhan Adil membagi beban. Aku percaya. Tak selamanya kita pintar dan tak selalu kita bodoh! Lalu kenapa menghakimi perasaan?? Kenapa? kalau tak bisa perduli cukup mendengar saja, kenapa? kalau tak bisa menghibur cukup mendoakan dan mengaminkan doa saja. Kenapa harus mengaca pada bayangannya?? Apakah sempurnanya mereka adalah mutlak?

Dan percayalah sahabat ku, kehilangan kekasih, jauh dari rumah, jetlag budaya, dan dihakimi orang-orang karena terlalu dramatis soal "patah hati" dalam satu masa bukanlah hal yang menyenangkan.Apalagi untuk yg mengalami. hehehhe

Itulah yg kurasa diminggu pertama aku disini teman. Bangun pagi rasanya seperti tak menjejak tanah, yang kuharap hanya waktu melayang menjauh. Aku tidak berpikir, tidak! Tidak mau.. Disisi lain semua menuntut untuk sembuh dalam waktu dekat, hayolaah, bahkan obat pun tak bisa bereaksi sama pada dua orang...  Geli sendiri kala mengingat itu semua.. Tapi Tuhan selalu punya tangan tangan tersembunyi :) Lihatlah sekarang,
Aku disini, masih mengobati hati,  Tapi aku BAHAGIA dengan cara ku sendiri, tak meliliti orang-orang, menikmati semesta dan bertualang sembari melihat sendiri bukti hadir mereka yang pantas disebut sahabat sejati :)

Maka ketika kemarin aku melihat seorang teman menuliskan status panjang tentang kehilangan aku memahami rasa itu.. Tidak teman, kau tak kenal dengannya, maka aku tuliskan lagi tulisannya di surat ini agar kau bisa baca juga:

aku sepenuhnya tau kalau kalian selalu ada, aku sepenuhnya sadar kalau doa kalian selalu terpanjatkan tapi kadang ketika perjalanan menjadi terlalu sunyi,kesadaran itu tidaklah  cukup, aku butuh tangan untuk berpegangan dan tepukan di pundak serta pelukan hangat seorang teman, taukah kalau aku rindu kalian?
*10 months to go and i already miss you all like crazy :(* Tyas 

Aku tak tau jana, apa yg membuat Tyas menulis kalimat sesahdu ini, hanya saja, kehilangan apapun bentuknya tetaplah kehilangan. Berbelasungkawa akannya tak kan membuat kita menjadi pengganti pemeran cinta fitri bukan?

dan aku menuliskannya juga untuk mu, untuk sahabat-sahabat baik yang pasti membaca catatan ini. Iya aku merindu kalian.. sangat.. Perjalanan menghadirkan tawa-tawa baru, tangan-tangan baru yang menjabat riang, tapi rasa tentu berbeda. Tapi mereka bukanlah kalian yang tanpa perlu ku jelaskan tau kemana langkah harus kita arahkan.. Semua yang pernah jauh dari lingkungan ternyamannya pasti pernah merasakan hal ini bukan?

Se ayunan langkah yang meringan setiap harinya, rasa sesak didada tetap menyelinap apalagi saat melihat tempat-tempat indah dan aku tak tau harus memencet nomor siapa? Atau tak tau harus mengetikkan 140 karakter pada siapa. Sunyi sekali rasanya. Teman bercakap apa saja, berbeda ruang dan waktu. Aku menyala kalian tidur...
Ah, akhirnya aku mengalaminya, rasa yang kau jadikan alasan membuat ku berbulan-bulan lebih jadi kotak pos tak bernama puisi-puisi dan rayuan gombal mu dulu itu..

Penghakiman meninggalkan ku dalam trauma, sulit sekali untuk yakin apakah yg akan aku sms atau telpon atau ku ajak chat tidak akan muntah-muntah, atau mencibir, atau menghina atau menyepelekan apa yang akan aku ceritakan. Karena seperti hari ini aku tak bisa menahan aliran kata-kata dramatis yg keluar hanya karena perih menelusup ke hati yg diam-diam berhianat, mengingat dia yang harusnya dilupakan...

Aku yakin kamu akan mendengar, duduk disamping ku dan memasang muka teramah, menunggu sampai kata-kata ku kering dan menceritakan cerita tidak penting tapi lucunya lebih dari apapun... Maka maaf kan surat melow ini ya kawan.. Esok pun aku tak berani menjanjikan rangkaian kata-kata riang gembira.. Tapi yang pasti aku tau kamu akan setia menemani aku, melihat sendiri bagaimana aku menyembuhkan diri. Menjadi saksi kata-kata luka yang kelak menjelma kenangan dan akhirnya mewujud tawa dipenghabisan cerita :)

Dan seperti yang kau pasti tau, aku pun selalu bersedia menjadi saksi kisah hidup mu sahabat :) S.E.L.A.L.U
jadi jangan sampai bosan bertukar kabar yaaa

Enschede, 15 November 2010


Ema

*nb kita lihat ya teman masih adakah yg membaca kalau isinya, edisi Mira W seperti ini hehehhe *capek dan lelah bikin gw melow melayu, tp gw baik baik ajah, jgn khawatir yaa*
Ini bulan november, bidadari mu harusnya berulangtahun bukan? apa yang kau siapkan teman? :)
Besok lebaran dan aku kesepian, kangen rumah T.T #kangen dikangenin

Apa rasanya Eropa Ema?

Saturday, November 13, 2010 at 10:24am

12 november,, eh bukan, hari sudah bergulir menjadi 13 november. Jarum jam sudah bergerak, 00.10

Apakabar dirimu disana Ema? Negeri kincir angin, ditengah benua biru yang ingin kita jelajahi itu. Mimpimu, mimpi kita, kamu dulu yang mewujudkannya.. Ini surat pembuka untukmu di tanah jauh.

Apa yang ingin kau baca dari suratku ema? Kalau kau tanyakan rasa, rasa yang timbul setelah membaca suratmu itu sungguh luar biasa. Surat pertama kubaca dalam sinar malam. Melalui layar kecil sebuah telepon genggam. Aku sungguh merasa berada disana, membayangkan jari-jarimu mengetik kata-demi kata sampai menjadi aliran cerita seperti itu.

Kalimatnya tidak sebanyak surat berikutnya, namun rasanya kok ya seperti saya sudah berada disana.
Setiap ingat kamu, aku selalu ingin bertanya, apa rasanya Eropa? Apa rasa anginnya? Bagaimana udaranya? Apa rasanya bangun pagi pertama? Bagaimana kekagumanmu saat menemui banyak hal baru disana, dan lainnya, begitu banyak pertanyaan, begitu ingin mendengar ceritamu, hmm,, aku sungguh ingin mendengar itu semua J

Lalu belum sempat kubalas suratmu ema, dua hari kemudia datang lagi surat kedua. Kebetulan pagi itu aku sedang berada disebuah sekolah. (hari dimana aku melihat anonoh). Saat perasaan sedikit ambruk karena presentasi tidak berjalan lancar, suratmu kubaca.

Ah ah Ema, begitu deras kata-kata darimu mengalir. Aku jadi membayangkan lagi. Mungkin kepenatan dan tekanan atau entah apa namanya, yang pasti aku tau, adalah hal yang cukup gila untuk meluangkan waktu hanya untuk mengetik sepanjang itu, ditengah waktumu yang begitu sempit!

Tapi justru disitu kadang ide mengalir…jadi ingat semasa jadi mahasiswa, di majalah kita dulu, aku pernah dapat ide ditengah malam, dan menulis sampai jam 3 pagi. Sebelum akhirnya tertidur puas. Karena ide sudah tersalurkan.
Sekarang juga ini yang aku lakukan ema. Baru saja omelan datang, tugas menumpuk menjelang ‘hajatan’ besar, belum sempat aku meluruskan badan. Namun aku tekadkan untuk melakukan hal ini. Mungkin sama seperti kamu waktu menulis surat kemarin disana. Ditengah terpaan tugas dan kewajiban lain, kamu menyempatkan waktu membuang itu semua dan menulis. Menulis yang membuat kita tetap waras.

Ya, aku menyempatkan menulis surat untukmu. Mungkin bahasanya terlalu cepat. Padahal aku ingin sekali bersastra ria disini. Karena sudah terlalu lama, terlalu kering kata2 didunia kerja, terlalu jauh dari sastra.

Ya inilah yang aku tulis ema. Tidak menggambarkan apa-apa. Tidak member info terbaru. Tapi aku janji aku akan menulis lagi. Sekarang, seperti banyak surat2 di masa lalu, aku akhiri tulisan ini dengan berkata:

Ema, ngantuk. Tidur dulu ya. Nti sambung lagi.

Bidadariku sudah terlelap daritadi. Semoga dia tidur nyenyak

Jakarta-Indonesia, 13 november 2010, 00.42


*ini foto di ruang makan bersama teman2ku

Kepada Jana (part 3)

Wednesday, November 10, 2010 at 1:31pm
Dear laki-laki dari teluk semangka,

Apa kabar mu teman? Kenapa tak kau balas surat ku? Sibukkah dirimu? Ah semoga bukan karena lupa pada ku. Sampaikah video yang kukirim pada mu? Teman, aku rasanya seperti menghianati garis waktu yang merunut dengan menulis surat ini untuk mu. Kenapa? Sederhana, karena harusnya ada banyak cerita untuk mu sebelum ini. Tapi ada hal-hal yang tidak bisa aku tidak bagi sekarang juga dengan mu! Anggap saja ini bagian itu :)

Kemarin setelah tekanan bertubi-tubi selama ujian pertama ku dinegeri kincir angin ini, aku ahkirnya memutuskan meliburkan diri. Berbekal undangan ke desa Wageningen yg kabarnya desa berpenghuni mahasiswa  Indonesia terbanyak di seantero Belanda, aku kesana. Bermodal tiket bolak balik, dengan niat, ketemu, nagih masakan Indonesia, haha hihi dan pulang malamnya. pertemuan itu menjelma menjadi lebih dari sekedar reuni teman. LEBIH!

Ah reuni adalah jeda, dimana kita bisa lari ke masa lalu tanpa harus benar benar menjejak kembali ke masa-masa itu. Bukan kah begitu teman ku? Bukan kah kau di hari yang sama meski dalam masa yang berbeda juga sedang bereuni di Indonesia iya kan? Aku liat foto-fotonya dan sedikit ter-iris-iris, hehehhe aku rasa kamu tau alasannya apa...

Untuk pertama kalinya aku merasa pulang, pulang ke orang-orang yang perduli pada ku, yang dengan kasih menyambut, memeluk dan meringankan pikir ku. Ah Jana, selamanya desa itu akan jadi titik recharge ku, bukan karena tempatnya tapi karena orang-orangnya...

ah tapi biarlah cerita tentang indahnya wageningen aku post diblog ku saja, biar kau mampir kesana dan membaca, atau mungkin meninggalkan sedikit jejak. Inti dari surat ini adalah perjalanan pulang yang akhirnya melenceng ke Amsterdam bukan ke Enschede. :D Iya aku memperpanjang libur ku, dan menjelajah Amsterdam, kota yang menjadi salah satu kota yang wajib dikunjungi ketika ke Eropa. Seperti yang kau tau, kesibukan tugas dan adaptasi membuat ku tak sempat kemana-mana selama di Belanda. Yang sempat malah main ke negara tetangga. Jadi perjalanan kali ini meski tak sengaja seolah menjadi alasan bayar hutang :D

Nah pointnya adalah untuk pertama kalinya aku menemukan pasangan gay dan lesbi yang terang-terangan show off di muka umum. hahahha, mau tidak mau aku inget kamu JANA. Aku inget perbincangan kita via Yahoo Messenger saat mengomentari victims yang terduga homo di perpus kampus ku. Ingat pembicaraan kita soal, Yang namanya kasih sayang ya kasih sayang! Ga liat kelamin. Kamu bisa membacanya dari siapa saja, meski untuk sebagian orang itu terbaca hanya untuk mereka yang berbeda kelamin.

Amsterdam memperlihatkan saya tentang sepasang gadis yang berangkul mesra sambil berjalan riang dan diam diam cium cium pipi. Memperlihatkan sepasan pria yang saling gandeng tangan dan menatap mesra, sambil sekali kali menidurkan kepala di Tram (kereta dalam kota). Ah ini baru love in the air Jana.. dan dikiri kanan sudut kamu bisa menemukan pasangan yang diam diam berciuman pelan atau malah saling dorong dengan penuh tenaga disudut sudut tangga, atau malah disamping tiang, dimana pun tiang dan dinding paling dekat bisa ditemukan. Ah Amsterdam!!

diam diam aku mengambil foto untuk mu :) sayang pasangan gay selalu menghadap pada ku, aku tak berani mengusik kemesraan mereka :)

Saya cuma bisa nyengir, cuma bisa terpukau dalam dingin 4 derajat yang menembus sampai ke tulang. Hati? sayang dia tak ikut beku, malah sedikit meringis, entah kenapa... Tapi aku suka! Cinta selalu saja memberikan harapan, melihatnya bertebaran membuat aura positif mengelilingi mu juga. Aku rasa kamu mengerti itu bukan hehehe :D

Salam dari jauh, nanti aku akan menulis lebih panjang entah di blog atau langsung pada mu. Tunggu saja!

Enschede berhujan ria sepanjang hari dengan suhu 2-4 derajat saja, dan aku flu berat. Ah tak seharusnya aku kurus, dingin sekali rasanya, aku merindukan lemak-lemak itu jana. Btw makanan asia yang pertama ku makan direstoran Asia negeri kincir ini adalah puyung hai, dan aku mengingat mu kala itu :)

Teman bercerita mu,



Ema

Kepada Jana (part 2)

Monday, November 1, 2010 at 10:49pm

Dear Laki laki dari teluk semangka,

Hai, aku datang lagi, semoga tak bosan. Tapi tahan dulu penasaran mu janu-ku, aku bukan akan bercerita tentang jejak-jejak.Tidak disini tidak disurat ini, setidaknya tidak untuk kali ini, tapi ada sebagian darinya kuletakkan diblog ku, semoga kamu sempat membacanya :) Kalau pun tidak, tak mengapa, aku akan merangkumkannya lagi kelak, untuk mu. Di sebuah teras, dalam sebuah percakapan tak terputus, dengan hidangan kue dari bidadari mu dan hm... (semoga) aku tak sendiri kala itu :) Kau tentu tau maksud ku, hayo cepat amiin kan :D

Aku menulis ditengah deadline tugas yang berjejalan, ditengah malam yang memanjaaaang.. Ditengah serangan keresahan yang benar benar mengganggu. Dulu kita pernah bersin-bersin, bahkan mendadak demam karena musim dan cuaca yang berubah. Padahal kita tiap hari mengalami semua hujan dan panas, sepanjang tahunnya tapi masih saja. Sekarang aku merasa musim berubah begitu cepat, disini semua terasa Jana, semua terasa dalam kelam, kenapa kelam, mungkin karena hati ku? Entahlah itu juga bisa.

Tapi yang pasti coba kau bayangkan kala matamu terpejam kau melihat pekat yang benar benar liat, dan begitu tidur mu cukup kau buka jendela mu, masih juga pekat itu berjajar dibalik jendela pagi mu, memekat; hitam! Seketika semua rasa resah berterbangan menelusup ke sudut hati mu, mengirimkan pecutan galau.. ah.. terlalu melodramatis rasanya, tapi ini Nyata, setidaknya saat aku mengayuh sepeda tadi jam 8 malam terasa jam 12 malam. Kelam sekali jana...

Aku merindukan cahaya, semua mahluk berhibernasi, dan pohon pohon diam tak bergerak. Tak ada angin kencang, daun daun merontok perlahan tapi pasti, meninggalkan dahan dan ranting. Menjadikan mereka fosil raksasa.. aih Jaaan

Ingatkah kau tentang cerita-cerita Agatha Christie? tentang burung burung Black Bird, aku menemukan mereka jana, disini mereka berterbangan menebar suara kwak kwak yang memecah keheningan kelam. Dan disisi lain menyelinapkan lagi lagi resah. Terasalah sekarang apa itu jauh dari rumah.. Semua mahluk disini meringkuk nyaman disarang mereka, dan aku? sarang ku? Ah aku sedang membawa sarangku kemana-mana dan berharap diperjalanan ini ada yang mau berbagi sarang dengan ku :)

Tak tahan rasanya, membaginya bersama mu kuharap bisa meredakan sedikit resah ku :)

Tapi aku akan bertahan, tentu saja, butuh ribuan kilo untuk kemari, dan semua musim yang menggelitik syaraf ini akan ku nikmati. Tiap denyut dikepala karena hujan yang tak pernah permisi membasah kuyupkan badan ini aku akan nikmati. Tiap gigil dan gemeretak gigi ku juga akan ku nikmati. Tapi sunggu sepi bukanlah hal yang ingin aku nikmati, terutama sendiri. Jadi maafkanlah aku, kalau selama musim dingin ini kau akan menerima surat terus dari ku ya. Itu juga indikasi, kalau kalau surat ku jarang datang tolong tulis diwall ku, suruh temen ku cek, jangan-jangan aku beku hehhee :P

Hm.. Sebenarnya tentang kelam dan gelap bukanlah inti surat ku, aku menulis ini untuk curhat mengenai betapa aku akhirnya paham kenapa dosen-dosen yang dulu S2 diluar itu terlihat begitu mengaggumkan. Karena yang mereka alami juga mengagumkan.Untuk pertama kalinya aku berkesempatan bergabung di sebuah tim bersama kaumnya HITLER. Seumur hidup ku, mengeluarkan usaha yang amat sangat besar untuk sebuah tugas bergadang sampe jam 4 pagi, 5 hari berturut-turut, baru saja aku alami sekarang! Usaha gila-gilaan yang sepertinya tak jua sebanding dengan usaha yang dilakukan oleh teman teman ku. Pada akhirnya, aku pun menilai kerja ku tak memuaskan!! Aih, aku merasa berotak kadal dan bertenaga liliput. Betapa berbedanya dari yang kita hadapi teman dahulu dibangku kuliah kita. Kemarin ditengah keputusasaan aku bertanya pada mbah Google, mengetikkan key words "bunuh diri karena s2" dan kau tebak hasilnya kawan? ADA!! Biasanya mahasiswa S2 dan S3 dan rata rata dari Asia. Aiiih teman.. aku tak mau berakhir seperti itu, maka aku berhenti bertanya-tanya. Tanya tentang seberapa besar kemampuan ku, mampukah? Bisakah?

Dua jam yang lalu aku sudah bersepakat dengan hati, bahwa aku hanya akan berusaha, bergerak, dan terus bergerak saja.. Soal hasil pasrah saja, pasrah tanpa menyalahkan diri sendiri. Berusaha sampai titik darah pengahabisan. *eh kok kedengerannya ujungnya mati juga ya?? :D

Betapa demi menghela jejalan tekanan dikepala ini aku pun mengabarkan mu bahwa hari ini, tepatnya 1 jam yang lalu aku merampungkan sesuatu. Sesuatu yang besar, suatu rencana yang menjanjikan pemenuhan sebagian mimpi tentang melihat pusat peradaban dunia. Hm, sesuatu yang membuat saya harus puasa hidup enak dua bulan ke depan :P Tentu kau mengerti maksud ku bukan kawan. Rencana ini seolah mimpi, tapi semua-semua sudah terjadwal manis. Iya semua sudah ON SCHEDULE. Kalau semua lancar seperti sekarang, maka kau akan kebanjiran cerita tentang 2 minggu yang penuh pesona dimulai dari sudut cantik di menara yang miring, nama-nama pizza yang enak, kakek tua yang membagi anggur berkat di lonceng 25 kalender mu. Tak hanya itu, siap siap saja menerima foto stadion yang replikanya ada dikota ku Palembang, serta cerita dari balik kanal-kanal kota penuh cinta. Lalu apa itu sudah cukup? Tidak untuk kali ini, kali ini kaki ku berencana melangkah panjang sekali, ke kota yang lagunya jadi soundtrack pacaran om dan tante kita, melihat sendiri gadis gadisnya yang katanya lekuknya seperti gitar.

Ah, sungguh gila rencana itu, sungguh gila karena aku akan pergi disaat semua orang pergi. Gila karena aku menggadaikan dompet demi pemenuhannya. Gila karena rencana ini sudah terkunci mati, yang artinya tak ada kata batal... Telah kubayangkan betapa nanti setelah pulang dari realisasi rencana ini aku akan melupakan eskrim nikmat dan hanya berteman sereal dikamar ku menulis catatannya untuk mu. :))

Sekian dulu ocehan ku, malam makin kelam dan dingin, aku masih harus menyelesaikan tugas ku. Aku harap kali ini kamu membalas, katakan apa yang kamu rasa saat membacanya. Oh ya semoga kamu tak cemburu kalau yang lain ikut mencuri baca surat mu ini. :) pastikan kau sudah memberitahu si bidadari, kalau surat ku tak perlu masuk kategori "bahaya yang mengancam hati" hehhee tak perduli seberapa romantis percintaan kata kata kita.

Enschede, 1 November 2010


Ema

Kepada Jana

Monday, November 1, 2010 at 10:49pm

Dear laki laki dari teluk semangka,

Apa kabar? Kapan kita terakhir bercakap teman? Ah rasanya lama sekali bukan? Mungkin karena tumpukan kata tak bisa mewakili suara kita. Aku disini teman, di negara yang dulu kita bincangkan diteras mimpi kita. Tentang batu bata berwarna merah, tentang musim yang berganti serupa cerita yang pernah kita baca, tentang karakter-karakter hebat yang pernah menguasai dunia. Iya saya sudah sampai disini sobat, sudah berbulan bahkan lamanya.

Apa cerita? Banyak sekali. Ingat kehilangan-kehilangan yang kau hadapi saat menuju ujung utara Indonesia? Aku mengalaminya juga sobat, mulai dari sembako di lemari dapur sampai cinta. Aih sudahlah, soal yang terakhir kau pasti sudah tau bukan. Aku pun berjalan-jalan teman, namun entah aku yang sudah renta, atau memang sudah bukan masanya? Langkah yang berakhir dengan hanya foto-foto terasa kering sekali. Menu-menu perjalanan juga terasa seperti kumpulan tempat dan transit saja. Dan aku ga mau mengalami hal itu, bukankah kita bersepakat perjalanan adalah pencarian, yang diujungnya kita akan saling menemukan, antara tanya dan jawaban yang selama ini kita pendam. Tanya yang mencari jawab dalam setiap keresahan.

Lalu aku tersadar, aku berjalan tapi tidak melihat-lihat. Bertemu dan bercerita tentang cerita lalu yang penuh luka hanya akan membuat dunia baru yang terjejak terbias kabut. Maka dari itu aku berhenti bercerita, aku berusaha lebih banyak mendengar, lebih banyak merasakan, lebih banyak mengalami, lebih banyak menghayati. Jadi maafkan aku kalau cerita ku bergerak lambat, toh kalau soal betapa indahnya Paris, betapa cantiknya Den Haag bisa kau temukan banyak dicerita siapa saja yang kesana.

Untuk mu aku ingin yang spesial teman, tak sekedar kata, tapi juga pembelajaran. Tak sekedar kenangan tapi juga rasa, dimana kau bisa merasakan juga tangisku, tawaku, heranku, takjubku, akan semua perjalanan itu. Tua-lah yang membuat tuak makin nikmat dan memabukkan. Biarlah cerita itu tak selalu fresh from oven kalau dengan memendamnya aku bisa menceritakan lebih banyak rasa. Tak keberatan bukan kawan? Masih setia menanti cerita ku kan kawan?

Enschede, 31 Oktober 2010


teman mu



Ema